Penulisan Al-Qur’an berbeda dengan penulisan berbahasa Arab pada umumnya meski pelafalannya sama. Para ulama fiqh, ulama Al-Qur’an, dan ahli teologi bersepakat bahwa penulisan Al-Qur’an yang berbeda dengan penulisan Bahasa Arab pada umumnya adalah bertujuan supaya Al-Qur’an dapat memuat al-ahrūf al-sab’ah. Hal tersebut juga menunjukkan kebenaran tentang adanya mukjizat dalam Al-Qur’an. Mukjizat tersebut kemudian dikenal dengan i’jāz rasm. Mayoritas ulama berpendapat bahwa penulisan dalam Al-Qur’an adalah perintah Nabi Muhammad (tauqīfī), tidak ada yang berhak untuk mengubahnya. Meskipun demikian, masih jarang orang yang membahas mengenai kemukjizatan Al-Qur’an dalam hal penulisan (rasm). Salah satu ulama yang membahas tentang i’jāz rasm adalah M. Syamlūl dalam karyanya yang berjudul I’jāz Rasm al-Qur’an wa I’jāz al-Tilāwah. Berangkat dari permasalahan di atas, penulis berusaha meneliti tentang bagaimana konsep i’jāz rasm menurut pandangan Syamlūl, khususnya pada kata hasanāt dan sayyiāt dalam Al-Qur’an. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan (library research) dengan jenis penelitian kualitatif. Tujuan dari penelitian ini untuk menelaah konsep-konsep yang diberikan oleh Syamlūl tentang perbedaan penulisan dalam rasm Al-Qur’an. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa i’jāz rasm dalam Al-Qur’an yang terfokus pada kata hasanāt dan sayyiāt bukan hanya berkaitan dengan perbedaan penulisan yang mungkin menyalahi penulisan bahasa Arab pada umumnya yang menunjukkan adanya keunikan dalam Al-Qur’an saja, akan tetapi juga pada kedalaman pesan moral dan makna tersirat yang disampaikan melalui perbedaan penulisan kata hasanāt dan sayyiāt.
Copyrights © 2024