Kawasan pesisir Bali dipandang sebagai salah satu kawasan yang memiliki banyak maknadan tata nilai ruang. Sebelum pengembangan pariwisata, kawasan pesisir telah memiliki beragamfungsi. Pertama sebagai tempat bermukim, Kedua sebagai tempat untuk melaksanakan upacarayadnya. Namun, pasca pengembangan pariwisata di Bali, kawasan pesisir mengalami degradasi.Kawasan Tanjung Benoa dan Nusa Dua sebagai salah satu ikon pariwisata Bali, saat ini banyakmengalami permasalahan lingkungan. Pembangunan akomodasi pariwisata tanpa adanya usahapelestarian, menyebabkan banyak daerah pesisir yang mengalami erosi dan abrasi. Tempat ritualkeagamaan di area pesisir semakin berkurang karena sebagian besar dikuasai oleh pemilik modalbesar. Permasalahan ini memerlukan kajian mendalam dan kerjasama dari berbagai pihak, agaridentitas kawasan pesisir dapat berjalan selaras dan seimbang dengan perkembangan peradaban saatini. Penelitian ini termasuk ke dalam penelitian kualitatif temuan lapangan (fields research). Berdasarkanhasil penelitian di lapangan serta pelaksanaan focus group discussion (FGD) dengan masyarakatsetempat, ditarik kesimpulan bahwa, teknik pemulihan pantai dengan metode sand by passingdipandang efektif untuk menanggulangi erosi dan abrasi di kawasan pesisir Nusa Dua Bali. Namun,keberhasilan metode ini dalam menangani abrasi serta erosi berdampak pada pembentukan pola ruangdan sistem petanda aktivitas, di sepanjang pesisir Nusa Dua dan Tanjung Benoa.
Copyrights © 2022