Kota-kota di Indonesia awal mulanya terbentuk melalui transformasi berbagai pengaruh kekuatan dan kekuasaan. Kekuatan sebagai identitas yang bisa menarik area terluar untuk datang ke sebuah kawasan, sedangkan kekuasaan terletak pada kekuatan personal manusia sebagai pimpinan sebuah wilayah. Kondisi tersebut berdampak terhadap perkembangan dunia Industri di tanah air. Transformasi struktur kota tradisional menuju kota modern, tidak saja secara fisik tetapi juga transformasi dasar terhadap konsep urbanitas warganya. Kampung kota sebagai elemen kota yang menjadi identitas sebuah daerah, masih menyimpan sistem nilai urbanitas tradisional yang berbeda dengan konsepsi urbanitas modern. Kondisi ini mempengaruhi pengembangan zona industri, seperti yang terjadi di Desa Bajera, Kecamatan Selemadeg, Kabupaten Tabanan. Heterogenitas penduduk Desa Bajera menjadi salah satu indikator terbesar terbentuknya zona industri. Keberadaaan moda transportasi yang menghubungkan antara wilayah terluar Bajera dengan Inti Desa Bajera menjadi faktor pendorong lain yang berpengaruh terhadap pertumbuhan kawasan industri. Kajian ini mencoba menjelaskan secara deskriptif kualitatif, sebuah fakta perkembangan wilayah berdasarkan teori Asiatica Euphoria McGee. Adanya daya tarik khusus pada inti Desa Bajera mendorong penduduk di wilayah terluar Bajera untuk bermigrasi ke wilayah inti Desa Bajera dengan tujuan menetap sementara maupun untuk menetap dalam jangka waktu yang lama. Fenomena tersebut sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh McGee, bahwa CBD (central business district) terbentuk akibat adanya daya tarik core (inti) dan kemudahan moda transportasi dari area peri urban menuju CBD. Kondisi ini menjadikan desa Bajera sebagai pusat kawasan industri dan perdagangan di Wilayah Selemadeg Barat, Tabanan, Bali.
Copyrights © 2019