Caregiver anak dengan HIV memegang peran kunci dalam menjaga kepatuhan terapi dan kesejahteraan anak. Reaksi emosional yang muncul sejak diagnosis awal sering kali kompleks dan dipengaruhi oleh nilai budaya setempat. Di Bali, nilai Tri Hita Karana, yang menekankan harmoni hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan, diduga membentuk cara caregiver menghadapi pengalaman emosional tersebut. Meskipun penelitian terkait perspektif ibu dalam pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak telah dilaporkan, kajian yang secara khusus menyoroti transisi emosional caregiver anak dengan HIV masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi tahap transisi emosional caregiver serta memahami bagaimana nilai Tri Hita Karana memengaruhi proses pemaknaan tersebut. Penelitian menggunakan desain fenomenologi interpretatif. Sebanyak 20 caregiver anak dengan HIV dipilih secara purposif dari dua lokasi di Bali. Wawancara mendalam semi-terstruktur dilakukan, dan data dianalisis menggunakan pendekatan interpretative phenomenological analysis untuk menggali makna pengalaman dalam konteks budaya lokal. Identifikasi tema menunjukkan lima tahap emosi utama: keterkejutan, penyangkalan, kemarahan, kesedihan, dan penerimaan. Pada tahap penerimaan, caregiver mulai menafsirkan pengalaman melalui lensa spiritual dan moral yang selaras dengan nilai Tri Hita Karana, yang membantu mereka mencapai ketenangan dan kekuatan emosional. Tri Hita Karana berperan penting dalam membentuk cara caregiver memahami dan mengelola tekanan emosional. Pendekatan psikososial berbasis budaya berpotensi memperkuat ketahanan emosional dan mendukung keberlanjutan pengobatan anak dengan HIV.
Copyrights © 2026