Latar Belakang: Dismenore merupakan nyeri yang terjadi saat haid, biasanya dengan rasa kram dan terpusat pada abdomen bagian bawah yang menjalar kepunggung bawah sampai kepaha. Penyebab nyeri dismenore adanya peningkatan dari prostaglandin ditandai bermacam-macam yaitu bisa karena penyakit radang panggul, endometriosis, tumor atau kelainan uterus selaput darah atau vagina tidak berlubang, stress atau cemas yang berlebihan. Penyebab lain nyeri dismenore karena terjadinya perubahan hormon yang tidak seimbang dan tidak ada hubungan dengan organ reproduksi. Dampak kejadian dismenore pada remaja putri yakni keterbatasan untuk melakukan aktivitas sehari-hari, menimbulkan ketidakhadiran di sekolah, menimbulkan penarikan sosial, penurunan prestasi akademik, dan peningkatan biaya medis karena perawatan kesehatan. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran pengetahuan remaja putri tentang penanganan dismenore pada siswi Madrasah Aliyah Negeri 1 Sleman. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional untuk menggambarkan pengetahuan remaja putri tentang penanganan dismenore. Instrumen penelitian berupa kuesioner penanganan dismenore yang diadopsi dari penelitian sebelumnya dan telah teruji validitas serta reliabilitasnya. Hasil: Hasil penelitian di Madrasah Aliyah Negeri 1 Sleman Sebagian besar responden berusia 17 tahun (67,3%) dengan usia menarche terbanyak pada 11 tahun (40,0%). Sumber informasi mengenai dismenore sebagian besar berasal dari orang tua (43,6%). Tingkat pengetahuan mengenai penanganan dismenore berada pada kategori baik (21,8%), cukup (61,8%), dan kurang (16,4%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 55 responden, sebanyak 12 siswi (21,8%) memiliki pengetahuan kategori baik, 34 siswi (61,8%) kategori cukup, dan 9 orang (16,4%) kategori kurang. Kesimpulan: Mayoritas siswi memiliki pengetahuan pada kategori cukup mengenai penanganan dismenore. Pengetahuan lebih banyak terkait metode non-farmakologis, sedangkan pemahaman tentang penanganan farmakologi atau penggunaan obat yang tepat dan tanda bahaya nyeri haid masih terbatas. Hal ini menunjukkan perlunya edukasi kesehatan reproduksi yang lebih komprehensif agar remaja putri mampu melakukan penanganan dengan benar serta mengetahui kapan harus mencari pertolongan medis.
Copyrights © 2026