Self-defense is an effort to protect oneself from attacks, whether from other people or creatures. One such martial art from Indonesia is Pencak Silat. This skill should be used for positive purposes, such as helping others and protecting those who are vulnerable. However, some individuals still misuse it, as seen in clashes between different schools of pencak silat in Banyuwangi. These conflicts resulted in one fatality, several injuries, and damage to residents' homes and a place of worship. This study aims to test the effect of social prejudice on aggressive behavior among members of the pencak silat school, with self-control as a moderating variable. Research with a quantitative approach, with data collection carried out through purposive sampling, namely members of the pencak silat school, domiciled in Banyuwangi and aged 18-45 years, as many as 100 respondents. Data analysis used through MRA mediation regression analysis. The results of the research data found a significant value from the self-control variable on the influence of social prejudice on aggressive behavior, 0.016. So it can be concluded that self-control plays a significant role as a moderator in the influence of social prejudice on aggressive behavior, and the hypothesis is accepted. AbstrakBela diri adalah usaha untuk melindungi diri dari serangan, baik dari manusia maupun makhluk lainnya. Keterampilan bela diri seharusnya digunakan untuk hal-hal positif, seperti membantu orang lain dan melindungi yang lemah. Namun masih terjadi bentrokan antara perguruan yang berbeda di Banyuwangi yang mengakibatkan satu korban meninggal dan beberapa lainnya terluka, serta kerusakan pada rumah warga dan tempat ibadah. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh prasangka sosial terhadap perilaku agresi di kalangan anggota perguruan pencak silat, dengan kontrol diri sebagai variabel moderasi. Penelitian dengan pendekatan kuantitatif dengan pengumpulan data yang dilakukan melalui purposive sampling yaitu anggota perguruan silat, domisili Banyuwangi dan berusia 18-45 tahun sebanyak 100 responden. Analisa data yang digunakan melalui MRA mediasi regresi analisis. Hasil penelitian data yang ditemukan diperoleh nilai signifikan dari variabel self-control pada pengaruh prasangka sosial terhadap perilaku agresi 0.016. Maka dapat disimpulkan bahwa self-control berperan signifikan sebagai moderator pada pengaruh prasangka sosial terhadap perilaku agresi dan hipotesi diterima.
Copyrights © 2025