Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh media grafik organizer dibandingkan media cetak konvensional dalam model pembelajaran inquiry terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas IV, ditinjau dari kemampuan membaca pemahaman. Metode penelitian menggunakan quasi-experimental design dengan pretest-posttest control group design. Sampel penelitian 56 siswa kelas IV SDN 02 Cupak Tangah, terbagi dalam kelompok eksperimen (n=28, media grafik organizer) dan kelompok kontrol (n=28, media cetak konvensional). Data dianalisis menggunakan ANCOVA dan Two-Way ANCOVA dengan pretest sebagai kovariat.Hasil penelitian menunjukkan: (1) Terdapat perbedaan signifikan hasil belajar antara kelompok eksperimen dan kontrol (F(1,53)=25,424, p<0,001, η²p=0,324). Kelompok eksperimen mencapai rerata lebih tinggi (M=78,31) dibandingkan kontrol (M=71,37), dengan peningkatan 9,7%; (2) Media pembelajaran berpengaruh signifikan (F(1,51)=20,518, p<0,001, η²p=0,287), namun kemampuan membaca pemahaman tidak berpengaruh signifikan (F(1,51)=0,014, p=0,907); (3) Tidak terdapat interaksi signifikan antara media pembelajaran dan kemampuan membaca pemahaman (F(1,51)=0,037, p=0,848), mengindikasikan media grafik organizer efektif konsisten untuk semua siswa.Temuan mengonfirmasi keunggulan media grafik organizer dijelaskan melalui Dual Coding Theory (representasi visual-verbal simultan), Cognitive Load Theory (pengurangan beban kognitif), dan Schema Theory (konstruksi pengetahuan terstruktur). Ketiadaan efek kemampuan membaca dan interaksi menunjukkan pembelajaran inquiry kolaboratif dengan scaffolding efektif mengurangi determinasi kemampuan individual, mendukung perspektif distributed cognition. Implikasi praktis: media grafik organizer dapat diterapkan universal tanpa diferensiasi berdasarkan kemampuan membaca siswa.
Copyrights © 2026