Istana Maimun merupakan salah satu mahakarya arsitektur peninggalan Kesultanan Deli yang berdiri megah di pusat Kota Medan. Bangunan ini tidak hanya merepresentasikan identitas historis masyarakat Melayu, tetapi juga menjadi medium komunikasi visual yang merekam jejak kejayaan masa lalu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam arsitektur bangunan Istana Maimun, dengan fokus khusus pada fungsi dan makna semiotik yang terkandung dalam ornamen-ornamen bangunannya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif historis, dengan menerapkan metode heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Pisau analisis yang digunakan melibatkan teori semiotika arsitektur serta konsep akulturasi budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Istana Maimun adalah produk eklektisisme arsitektural yang menggabungkan elemen Melayu, Moghul, Timur Tengah, dan Eropa. Ornamen-ornamen yang menghiasi istana, seperti pucuk rebung, lebah bergantung, itik sekawan, dan awan larat, bukan sekadar elemen dekoratif yang berfungsi menambah nilai estetika, melainkan juga memuat makna filosofis yang mendalam terkait hierarki sosial, kesopanan, kerukunan, serta nilai-nilai spiritual Islam. Lebih lanjut, analisis terhadap ruang Balairung mengungkap bagaimana desain interior dan perabotan difungsikan sebagai manifestasi kekuasaan dan takhta Kesultanan Deli di tengah hegemoni kolonial. Kesimpulannya, arsitektur dan ornamen Istana Maimun berfungsi sebagai teks budaya yang secara dinamis mempertahankan dan merepresentasikan identitas Melayu dalam lintasan zaman.
Copyrights © 2026