Pemilihan framework backend yang tepat merupakan keputusan krusial dalam pengembangan aplikasi web, terutama ketika sistem dituntut untuk melayani banyak pengguna secara bersamaan dengan sumber daya komputasi yang terbatas. Penelitian ini membandingkan performa Python Flask dan Go Gin yang diimplementasikan pada sistem Alumni Circle melalui pengujian beban (load testing) dengan skenario mixed workload sebanyak 500 pengguna simultan selama 5 menit. Aspek yang diukur meliputi throughput (Requests Per Second), latensi, serta penggunaan CPU dan memori yang dipantau secara real-time menggunakan docker stats. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Go Gin memproses 55.739 permintaan dengan tingkat keberhasilan 100% dan rata-rata 185,88 RPS, sementara Python Flask hanya menyelesaikan 29.201 permintaan dengan 7.322 kegagalan dan rata-rata 97,36 RPS. Dari sisi latensi, Go Gin mencatat rata-rata waktu respons 468,18 ms, hampir lima kali lebih cepat dibanding Flask yang mencapai 2.332,72 ms. Pada kondisi beban puncak, Flask mencatatkan latensi maksimal hingga 132.860 ms, sedangkan Go Gin mampu meredam lonjakan di angka 43.117 ms tanpa menghasilkan error. Dalam hal sumber daya, rata-rata penggunaan CPU kedua framework relatif sebanding, namun Go Gin lebih stabil di beban puncak dengan CPU tertinggi 41,21% dibanding Flask 60,82%. Efisiensi memori Go Gin juga lebih unggul dengan rata-rata 53,54 MB berbanding 114,65 MB pada Flask. Berdasarkan hasil tersebut, Go Gin terbukti lebih unggul dalam throughput, stabilitas latensi, dan efisiensi memori dibanding Python Flask pada skenario beban tinggi. Go Gin direkomendasikan sebagai arsitektur backend yang lebih andal dan skalabel untuk aplikasi Alumni Circle maupun sistem sejenis yang mengutamakan performa dan efisiensi sumber daya server.
Copyrights © 2026