Penetapan waktu produksi di PT X yang masih bersifat estimatif berpotensi menyebabkan pemanfaatan tenaga kerja yang kurang optimal, ketidaksesuaian antara kapasitas produksi dan permintaan pasar, serta meningkatnya risiko keterlambatan pengiriman produk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis waktu kerja serta menentukan kapasitas produksi pada proses pembuatan nakas menggunakan metode stopwatch time study. Pengamatan dilakukan pada lima stasiun kerja yang meliputi proses pengukuran, pemotongan, penghalusan, pengecatan, dan perakitan, dengan masing-masing stasiun dioperasikan oleh satu operator. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan langsung sebanyak 10 kali pada setiap stasiun kerja. Data kemudian dianalisis melalui uji keseragaman data, uji kecukupan data, perhitungan waktu siklus, waktu normal, serta waktu baku dengan mempertimbangkan performance rating dan allowance. Hasil penilaian menunjukkan nilai performance rating pada operator stasiun pengukuran (1,11), pemotongan (1,16), penghalusan (1,33), pengecatan (1,33), serta perakitan (1,21). Sementara itu nilai allowance yang diperoleh pada stasiun pengukuran sebesar 28%, pemotongan 35%, penghalusan 30%, pengecatan 26%, dan perakitan 29%. Berdasarkan hasil analisis lintasan produksi, stasiun pengecatan menjadi bottleneck dengan waktu baku sebesar 3403,36 detik atau 56,72 menit per unit. Jumlah unit produksi ditentukan oleh waktu baku terlama karena dalam sistem produksi berurutan kapasitas output mengikuti stasiun kerja dengan waktu proses paling lama (bottleneck). Dengan waktu kerja 480 menit per hari, maka (480 : 56,72 = 8, 46) kapasitas produksi yang dapat dicapai adalah sekitar 8–9 unit nakas per hari. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi perusahaan dalam menetapkan standar waktu kerja serta perencanaan kapasitas produksi secara lebih akurat.
Copyrights © 2026