Penelitian ini bertujuan membandingkan tahun baru pada satu Suro di masyarakat Jawa dan tahun baru Songkran pada masyarakat Thailand. Bagi masyarakat Jawa satu Suro merupakan tahun baru di kalender Jawa yang diterbitkan Sultan Agung sedangkan Songkran merupakan tahun baru bagi masyarakat Thailand yang berlangsung pada 13 – 15 April. Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi pustaka. Teori yang digunakan adalah teori religi dan teori simbol. Hasilnya, satu Suro bagi masyarakat Jawa bukan hanya sebagai pergantian tahun melainkan sebagai momen untuk intropeksi diri, melakukan doa bersama, dan menyajikan nasi tumpeng. Songkran yang merupakan pergantian tahun bagi masyarakat Thailand dilaksanakan dengan khidmat seperti meminta ampun dan restu kepada orang tua, menyiram air ke patung Buddha, melepaskan burung atau ikan, dan perang air. Berdasarkan teori religi, kedua perayaan ini memiliki dimensi keagamaan yang kuat: satu Suro bersumber dari akulturasi Islam dan budaya Jawa, sedangkan Songkran berakar pada ajaran Buddha Theravada. Sementara itu, dari teori simbol, satu Suro menonjolkan simbol nasi tumpeng sebagai representasi doa dan kebersamaan, sedangkan Songkran menggunakan air sebagai simbol penyucian dan kebahagiaan. Kedua tradisi memperlihatkan bahwa ritual tahun baru tidak sekadar pergantian waktu, melainkan sarana pembaruan spiritual dan sosial yang memperkuat kohesi masyarakat. Kata Kunci: Satu Suro; Songkran; Tahun Baru; Jawa; Thailand
Copyrights © 2025