Hasanuddin Journal of Public Health
Vol. 5 No. 2: JUNE 2024

KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA (0– 59 BULAN) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PEKKABATA KABUPATEN POLEWALI MANDAR

Gabryella Laura Mongan (Departemen Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin)
Wahiduddin Wahiduddin (Departemen Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin)
Indra Dwinata (Departemen Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin)



Article Info

Publish Date
30 Jun 2024

Abstract

Latar Belakang: Hasil Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) di tahun 2022 prevalensi stunting di Indonesia adalah 21,6%. Pada tahun 2022 Provinsi Sulawesi Barat menduduki peringkat kedua dengan stunting yang tinggi. Di Sulawesi Barat, Kabupaten Polewali Mandar berada di peringkat kedua dengan prevalensi balita stunting sebesar 39,3%. Berdasarkan Dinas Kesehatan Polewali Mandar bahwa kasus stunting di Kabupaten Polman mengalami kenaikan di tahun 2023. sebesar 29,85%. Dari kenaikan jumlah yang mengalami stunting tentunya menjadi masalah karena kenaikan stunting yang cukup pesat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar risiko kejadian stunting pada balita usia (0-59 bulan) di wilayah kerja Puskesmas Pekkabata Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat. Metode: Desain penelitian menggunakan desain studi case control. Populasi seluruh balita stunting dan balita tidak stunting usia 0-59 bulan. Pengambilan sampel dengan purposive sampling menghasilkan 152 responden (masing-masing 76 kasus dan kontrol). Hasil: Hasil penelitian didapatkan faktor risiko stunting adalah pendidikan ibu (OR=2,06;95% CI=0,980-4,396), tinggi badan ibu (OR=2,56; 95% CI=1,221-5,422), usia ibu saat hamil (OR=6,79; 95% CI=2,612-19,626), berat badan lahir anak (OR=2,41;95% CI=0,634-11,195), Status KEK (OR=7,81;95% CI=2,436-32,504). Kesimpulan: Pendidikan ibu, tinggi badan ibu, usia ibu saat hamil, berat badan lahir anak dan status KEK menjadi faktor risiko penyebab stunting pada balita usia 0-59 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas PekkabataLatar Belakang: Hasil Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) di tahun 2022 prevalensi stunting di Indonesia adalah 21,6%. Pada tahun 2022 Provinsi Sulawesi Barat menduduki peringkat kedua dengan stunting yang tinggi. Di Sulawesi Barat, Kabupaten Polewali Mandar berada di peringkat kedua dengan prevalensi balita stunting sebesar 39,3%. Berdasarkan Dinas Kesehatan Polewali Mandar bahwa kasus stunting di Kabupaten Polman mengalami kenaikan di tahun 2023. sebesar 29,85%. Dari kenaikan jumlah yang mengalami stunting tentunya menjadi masalah karena kenaikan stunting yang cukup pesat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar risiko kejadian stunting pada balita usia (0-59 bulan) di wilayah kerja Puskesmas Pekkabata Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat. Metode: Desain penelitian menggunakan desain studi case control. Populasi seluruh balita stunting dan balita tidak stunting usia 0-59 bulan. Pengambilan sampel dengan purposive sampling menghasilkan 152 responden (masing-masing 76 kasus dan kontrol). Hasil: Hasil penelitian didapatkan faktor risiko stunting adalah pendidikan ibu (OR=2,06;95% CI=0,980-4,396), tinggi badan ibu (OR=2,56; 95% CI=1,221-5,422), usia ibu saat hamil (OR=6,79; 95% CI=2,612-19,626), berat badan lahir anak (OR=2,41;95% CI=0,634-11,195), Status KEK (OR=7,81;95% CI=2,436-32,504). Kesimpulan: Pendidikan ibu, tinggi badan ibu, usia ibu saat hamil, berat badan lahir anak dan status KEK menjadi faktor risiko penyebab stunting pada balita usia 0-59 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas PekkabataLatar Belakang: Hasil Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) di tahun 2022 prevalensi stunting di Indonesia adalah 21,6%. Pada tahun 2022 Provinsi Sulawesi Barat menduduki peringkat kedua dengan stunting yang tinggi. Di Sulawesi Barat, Kabupaten Polewali Mandar berada di peringkat kedua dengan prevalensi balita stunting sebesar 39,3%. Berdasarkan Dinas Kesehatan Polewali Mandar bahwa kasus stunting di Kabupaten Polman mengalami kenaikan di tahun 2023. sebesar 29,85%. Dari kenaikan jumlah yang mengalami stunting tentunya menjadi masalah karena kenaikan stunting yang cukup pesat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar risiko kejadian stunting pada balita usia (0-59 bulan) di wilayah kerja Puskesmas Pekkabata Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat. Metode: Desain penelitian menggunakan desain studi case control. Populasi seluruh balita stunting dan balita tidak stunting usia 0-59 bulan. Pengambilan sampel dengan purposive sampling menghasilkan 152 responden (masing-masing 76 kasus dan kontrol). Hasil: Hasil penelitian didapatkan faktor risiko stunting adalah pendidikan ibu (OR=2,06;95% CI=0,980-4,396), tinggi badan ibu (OR=2,56; 95% CI=1,221-5,422), usia ibu saat hamil (OR=6,79; 95% CI=2,612-19,626), berat badan lahir anak (OR=2,41;95% CI=0,634-11,195), Status KEK (OR=7,81;95% CI=2,436-32,504). Kesimpulan: Pendidikan ibu, tinggi badan ibu, usia ibu saat hamil, berat badan lahir anak dan status KEK menjadi faktor risiko penyebab stunting pada balita usia 0-59 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Pekkabata.

Copyrights © 2024






Journal Info

Abbrev

hjph

Publisher

Subject

Public Health

Description

Aims and Scope Hasanuddin Journal of Public Health: Epidemiology Health Education and Promotion Environmental Health Occupational Health and Safety Health Administration and Policy Biostatistics Reproductive Health Hospital Management Nutrition Science Health Information ...