Artikel ini membahas keterkaitan antara nafas manusia, ekologi, dan tafsir Al-Qur’an, khususnya pada QS. Al-Mursalat:25–26, dalam konteks siklus karbon. Melalui pendekatan interdisipliner antara agama dan sains, kajian ini mengungkap bahwa aktivitas bernapas bukan sekadar proses biologis, tetapi juga memiliki makna ekologis dan spiritual yang mendalam. Proses respirasi manusia berperan dalam pertukaran karbon dioksida (CO₂) dan oksigen (O₂), yang membentuk keseimbangan antara manusia, tumbuhan, dan bumi. Ayat Al-Mursalat:25–26 dipahami sebagai simbol keterpaduan kehidupan dan kematian dalam satu sistem ekologis ciptaan Allah. Dengan menempatkan nafas sebagai variabel epistemologis, penelitian ini memperluas wacana tafsir ekologi Al-Qur’an, memperlihatkan bahwa Islam memberikan dasar teologis bagi etika ekologis dan keberlanjutan lingkungan.
Copyrights © 2025