Kenakalan remaja merupakan bentuk perilaku menyimpang yang umum terjadi pada fase transisi menuju kedewasaan. Fenomena ini semakin kompleks di era digital, di mana remaja banyak terpapar berbagai narasi sosial melalui media massa dan media sosial. Salah satu narasi yang kerap muncul adalah mengenai konstruksi maskulinitas yang problematik, dikenal dengan istilah toxic masculinity. Pola ini menekankan dominasi, represi emosi, dan kecenderungan kekerasan sebagai indikator kejantanan, yang dapat berpengaruh pada perilaku menyimpang remaja laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana representasi toxic masculinity dikonstruksikan dalam mini seri Adolescence (2025), menggunakan pendekatan semiotika sebagai metode utama. Analisis dilakukan dengan menelaah tanda-tanda visual, simbolik, dan naratif yang muncul secara konsisten dalam serial, untuk memahami bagaimana makna toxic masculinity dikomunikasikan dan diinternalisasi oleh karakter utama yang merupakan remaja laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Adolescence merepresentasikan bentuk-bentuk toxic masculinity melalui berbagai simbol, seperti kekerasan fisik sebagai bentuk pembuktian diri, penghindaran ekspresi emosional, hingga pengaruh teman sebaya yang memperkuat nilai-nilai dominasi. Representasi tersebut memperlihatkan keterkaitan erat antara tekanan sosial, krisis identitas, dan kecenderungan remaja untuk menormalisasi perilaku menyimpang. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya literasi media dan pendidikan gender sejak dini untuk mencegah internalisasi toxic masculinity yang dapat berdampak pada perilaku kriminal dan disfungsional
Copyrights © 2025