Artikel ini menyoroti solidaritas mahasiswa Papua di perantauan kota Pekanbaru. Tujuan penelitian untuk menganalisis bentuk solidaritas dan upaya mahasiswa Papua mempertahankan solidaritas dalam menghadapi berbagai tantangan di lingkungan perantauan. Dengan menggunakan teori solidaritas Durkheim, yang membedakan antara solidaritas mekanik dan organik. Teknik penelitian menggunakan pendekatan kualitatif naratif dengan pengumpulan data melalui observasi nonpartisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Data terkumpul dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan interpretasi pola untuk memperoleh kesimpulan yang mendalam. Subyek penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling, terdiri dari 6 mahasiswa Papua yang berstatus aktif kuliah di Pekanbaru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa solidaritas mahasiswa Papua terwujud dalam berbagai bentuk seperti tolong menolong, gotong royong, kesukarelaan, toleransi, aksi sosial, agenda kebudayaan, dan iuran wajib. Upaya mempertahankan solidaritas dilakukan melalui kegiatan rutin seperti makan bersama setiap minggu, olahraga bersama, perayaan khusus seperti valentine, dan musyawarah untuk menyelesaikan masalah. Hasil analisis menunjukkan bahwa solidaritas mahasiswa Papua terbentuk melalui interaksi spontan dari pengalaman bersama yang kemudian berkembang menjadi sistem organisasi formal seperti Himpunan Mahasiswa Papua Riau (HIMAPARI). Disimpulkan bahwa solidaritas mahasiswa Papua di Pekanbaru menggabungkan kedua bentuk solidaritas Durkheim secara harmonis, dimana solidaritas mekanik tetap mengakar kuat berdasarkan identitas budaya bersama sementara solidaritas organik memberikan struktur praktis melalui organisasi formal, sehingga menciptakan sistem dukungan yang efektif bagi mahasiswa perantau dalam menghadapi tantangan hidup di lingkungan yang berbeda dari kampung halaman mahasiswa Papua.
Copyrights © 2025