Kerja sama sister city Kota Bandung dengan Kota Melbourne adalah bentuk dari paradiplomasi pemerintah daerah yang bertujuan untuk mendukung pembangunan perkotaan, khususnya dalam mewujudkan kota layak huni (liveable city). Penelitian ini memperlihatkan kondisi empiris yang menunjukkan adanya kesenjangan antara perencanaan strategis kerja sama sister city yang bersifat normatif dengan implementasinya di tingkat lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi kerja sama sister city Bandung–Melbourne pada bidang kota layak huni dan menjelaskan bagaimana implementasi kerja sama tersebut dapat berjalan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui, studi pustaka, wawancara dengan Bagian Kerja Sama Sekretariat Daerah Kota Bandung serta studi dokumentasi yang tercantum dalam Momerandum of Understanding (MoU). Analisis data dilakukan dengan menggunakan model interaktif para ahli Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerja sama sister city Bandung–Melbourne dalam bidang kota layak huni telah menghasilkan capaian implementatif berupa transfer pengetahuan (knowledge), transfer teknologi, peningkatan sumber daya manusia, serta adaptasi kebijakan kota pintar melalui inisiatif Bandung Smart City. Meskipun implementasi belum sepenuhnya terealisasi dan masih bersifat bertahap dan berkelanjutan, hasil penelitian menunjukkan bahwa kesenjangan antara perencanaan dan implementasi dijembatani melalui proses adaptasi kebijakan yang bertahap dan berkelanjutan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa efektivitas kerja sama sister city tidak hanya diukur dari hasil jangka pendek, tetapi dari kemampuan pemerintah daerah dalam mengadaptasi strategi kerja sama internasional ke dalam konteks lokal secara fleksibel. Hasil penelitian ini memberikan implikasi penting bagi penguatan kebijakan paradiplomasi pemerintah daerah dalam pembangunan kota layak huni yang berkelanjutan.
Copyrights © 2026