Banjir merupakan salah satu bencana hidrometeorologi yang sering terjadi di Indonesia dan menimbulkan kerugian sosial serta ekonomi yang signifikan. Oleh karena itu, analisis debit banjir rancangan sangat penting dalam perencanaan infrastruktur pengendali banjir, khususnya pada daerah aliran sungai yang memiliki keterbatasan data hidrograf pengamatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan debit banjir rancangan menggunakan metode Hidrograf Satuan Sintetik Snyder dan Soil Conservation Service pada DAS Belumai. Metode penelitian meliputi analisis data curah hujan maksimum tahunan, uji konsistensi data menggunakan metode Rescaled Adjusted Partial Sums, serta analisis frekuensi untuk memperoleh hujan rencana. Selanjutnya, hujan efektif digunakan dalam pembentukan hidrograf banjir dengan kedua metode tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa debit puncak metode Snyder terjadi lebih cepat dibandingkan metode Soil Conservation Service, dengan nilai debit yang lebih besar pada setiap periode ulang. Pada periode ulang 100 tahun, debit puncak metode Snyder sebesar 802,695 meter kubik per detik, sedangkan metode Soil Conservation Service sebesar 525,012 meter kubik per detik. Perbedaan hasil ini menunjukkan bahwa metode Snyder memberikan estimasi yang lebih konservatif dibandingkan metode Soil Conservation Service. Dengan demikian, metode Snyder lebih direkomendasikan dalam perencanaan pengendalian banjir untuk mempertimbangkan kondisi debit maksimum
Copyrights © 2026