Tren konsumsi kopi di Indonesia meningkat pesat seiring pergeseran gaya hidup generasi muda, memunculkan model bisnis inovatif seperti kopi keliling. Brand XYZ sebagai salah satu pemain kopi keliling di Bandung menggunakan sepeda listrik untuk distribusi langsung ke konsumen. Namun, penentuan lokasi jualan masih berbasis asumsi individu, menyebabkan cakupan permintaan yang kurang optimal. Penelitian ini bertujuan mengusulkan wilayah distribusi yang dapat memaksimalkan cakupan permintaan menggunakan pendekatan Maximal Covering Location Problem (MCLP) dan K- Means clustering. Data permintaan diambil dari 20 titik lembaga pendidikan sebagai proksi permintaan tertinggi, dan 40 kandidat lokasi jualan ditentukan berdasarkan visibilitas, aksesibilitas, serta kedekatan dengan titik permintaan. Hasil model MCLP menunjukkan tercapainya cakupan 100% dengan hanya 15 lokasi jualan terpilih. K-Means kemudian membagi wilayah menjadi tiga cluster yang seimbang secara spasial (skor silhouette 0,4948), memudahkan alokasi pedagang. Implementasi model ini mendukung keputusan strategis brand dalam memperluas area distribusi berbasis data, meningkatkan efisiensi operasional dan potensi penjualan. Kata kunci— Kopi Keliling, MCLP, K-Means, Distribusi, Wilayah Operasional
Copyrights © 2026