Pengembangan kawasan perkotaan baru Duri, Kabupaten Bengkalis, yang berada dalam Cekungan Sumatra Tengah dan dipengaruhi sistem Sesar Sumatera,memerlukan pemahaman bawah permukaan yang jauh lebih rinci. Penelitian ini mengintegrasikan data gayaberat GGMPlus beresolusi 1,11 km dan data magnetik WDMAM beresolusi 5 km untuk mengidentifikasi struktur geologi, batas litologi, serta potensi deformasi yang relevan bagi perencanaan wilayah. Pemodelan dua dimensi menunjukkan bahwa variasi densitas dan suseptibilitas magnetik antar formasi yakni Formasi Minas (1900 kg/m³; 0,00003 SI), Petani (2100 kg/m³; 0,00002 SI), Telisa (2300 kg/m³; 0,000001 SI), Sihapas (2250 kg/m³; 0,00005 SI), dan Pematang (2350 kg/m³; 0,000003 SI) mencerminkan perbedaan litologi dan kandungan mineral, di mana Formasi Sihapas yang memiliki suseptibilitas tertinggi diinterpretasikan kaya mineral ferromagnetik seperti magnetit sehingga menjadi kontributor utama anomali magnetik, sedangkan Formasi Telisa dan Pematang dengan densitas lebih tinggi namun suseptibilitas rendah menunjukkan dominasi sedimen kompak miskin mineral magnetik, sehingga hasil ini menegaskan bahwa respon gayaberat dan magnetik dikontrol oleh kombinasi sifat fisik batuan dan komposisi mineral, bukan semata-mata oleh struktur geologi.
Copyrights © 2026