This article investigates the methodological consistency of Zaghlūl al-Najjār’s scientific hermeneutics as articulated in al-Iʿjāz al-ʿIlmī fī al-Sunnah al-Nabawiyyah. Al-Najjār proposes a five-step interpretive framework for uncovering scientific content within prophetic traditions, comprising linguistic analysis, contextual examination (asbāb al-wurūd), cross-hadith comparison, Qurʾanic correlation, and scientific validation. While widely cited, the internal coherence of this model has not been subjected to close critical analysis. Adopting a qualitative, text-based approach rooted in hermeneutical theory, this study analyzes seventy hadiths discussed in al-Najjār’s work to assess the extent to which his stated framework is consistently applied. The findings reveal that only three hadiths (4.3%) demonstrate full methodological implementation, while the remainder exhibit partial and uneven usage of the proposed steps. This inconsistency suggests a tendency to prioritize scientific concordance over traditional exegetical rigor. The article argues that such inconsistency reflects an underlying epistemological tension between the authority of empirical science and the interpretive legacy of ʿulūm al-ḥadīth. Rather than rejecting the scientific hermeneutical project, this study calls for a more critically grounded approach—one that integrates scientific inquiry without compromising methodological transparency or fidelity to the hadith tradition. This research contributes to broader discussions on iʿjāz ʿilmī by proposing evaluative criteria for future scholarship aiming to reconcile revelation with modern science within a coherent and academically sustainable framework. [Artikel ini mengkaji konsistensi metodologis dari pendekatan hermeneutika ilmiah yang dirumuskan oleh Zaghlūl al-Najjār dalam karyanya al-Iʿjāz al-ʿIlmī fī al-Sunnah al-Nabawiyyah. Al-Najjār mengusulkan kerangka interpretasi lima langkah untuk mengungkap kandungan saintifik dalam hadis, yang mencakup analisis linguistik, kajian konteks (asbāb al-wurūd), perbandingan antarhadis, korelasi dengan ayat-ayat Al-Qur’an, serta validasi ilmiah. Meskipun pendekatan ini cukup berpengaruh, koherensi internal model tersebut belum banyak dianalisis secara kritis. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis teks yang berakar pada teori hermeneutika, studi ini menganalisis tujuh puluh hadis yang dibahas oleh al-Najjār untuk menilai sejauh mana kelima langkah metodologis tersebut diterapkan secara konsisten. Hasil analisis menunjukkan bahwa hanya tiga hadis (4,3%) yang dianalisis secara utuh menggunakan seluruh komponen metodologi, sementara sisanya menunjukkan pola penerapan yang parsial dan tidak merata. Ketidakkonsistenan ini mengindikasikan kecenderungan untuk memprioritaskan kesesuaian ilmiah dibandingkan ketelitian tafsir tradisional. Artikel ini berargumen bahwa ketidakkonsistenan tersebut mencerminkan ketegangan epistemologis antara otoritas ilmu empiris dan warisan interpretatif ʿulūm al-ḥadīth. Alih-alih menolak pendekatan iʿjāz ʿilmī, studi ini mengusulkan perlunya pendekatan yang lebih kritis dan metodologis, yang mampu mengintegrasikan sains tanpa mengorbankan transparansi dan integritas syarah hadis. Penelitian ini memberikan kontribusi pada diskursus iʿjāz ʿilmī dengan menawarkan kriteria evaluatif bagi studi-studi masa depan yang berupaya merekonsiliasi wahyu dengan ilmu pengetahuan dalam kerangka akademik yang koheren dan berkelanjutan.]
Copyrights © 2025