This article investigates the hermeneutical tensions present in al-Ṭabarī’s Jāmiʿ al-Bayān, a work traditionally categorized as tafsīr bi al-maʾthūr. Utilizing qualitative content analysis of selected theological verses (Q. 2:255; Q. 2:29; Q. 38:34), in conjunction with historical contextualization, the study explores the extent to which al-Ṭabarī consistently adheres to his three stated hermeneutical principles: reliance on transmitted ḥadīth, rejection of raʾy-based interpretation, and commitment to the apparent textual meaning (ẓāhir). The analysis uncovers significant contextual negotiation of these principles, particularly in verses addressing the divine attributes (ṣifāt Allāh). In such instances, al-Ṭabarī selectively evaluates competing narrations, incorporates linguistic and rational analysis, and employs a form of controlled literalism tempered by theological qualification. These findings indicate that al-Ṭabarī’s hermeneutical approach reflects a principled adaptation shaped by pre-canonical ḥadīth evaluation and the socio-theological dynamics of the third-century Hijrī context, rather than a mechanical application of methodological declarations. By emphasizing exegetical practice over classificatory categories, this study challenges the analytical sufficiency of the maʾthūr–raʾy dichotomy and contributes to a more nuanced understanding of early Sunnī hermeneutics. [Artikel ini mengkaji ketegangan hermeneutik yang terdapat dalam Jāmiʿ al-Bayān karya al-Ṭabarī, sebuah karya yang secara tradisional diklasifikasikan sebagai tafsīr bi al-maʾthūr. Dengan menggunakan analisis isi kualitatif terhadap sejumlah ayat teologis terpilih (Q. 2:255; Q. 2:29; Q. 38:34) serta pendekatan kontekstualisasi historis, penelitian ini menelaah sejauh mana al-Ṭabarī secara konsisten berpegang pada tiga prinsip hermeneutik yang ia nyatakan sendiri, yaitu ketergantungan pada ḥadīth yang ditransmisikan, penolakan terhadap penafsiran berbasis raʾy, dan komitmen terhadap makna tekstual yang lahiriah (ẓāhir). Analisis menunjukkan adanya negosiasi kontekstual yang signifikan terhadap prinsip-prinsip tersebut, khususnya pada ayat-ayat yang berkaitan dengan atribut-atribut ketuhanan (ṣifāt Allāh). Dalam konteks ini, al-Ṭabarī secara selektif mengevaluasi riwayat-riwayat yang saling bersaing, mengintegrasikan analisis kebahasaan dan rasional, serta menerapkan suatu bentuk literalisme terkontrol yang dibatasi oleh pertimbangan teologis. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan hermeneutik al-Ṭabarī merefleksikan suatu adaptasi yang berprinsip, yang dibentuk oleh evaluasi ḥadīth pra-kanonik dan dinamika sosio-teologis abad ketiga Hijriah, alih-alih penerapan mekanis atas deklarasi metodologis semata. Dengan menekankan praktik eksegetis dibandingkan kategori klasifikatoris, kajian ini menantang kecukupan analitis dikotomi maʾthūr–raʾy dan berkontribusi pada pemahaman yang lebih bernuansa mengenai hermeneutika Sunni awal.]
Copyrights © 2025