Quarter Life Crisis menjadi isu yang paling sering dialami generasi usia 20-an yang mulai memasuki emerging adulthood. Maraknya penggunaan media sosial turut memperkuat tekanan yang dirasakan generasi muda, karena terpapar akan pencapaian orang lain hingga terjadi social comparison terhadap persepsi diri sendiri yang kurang ideal. Pada konteks ini, buku self-help menjadi salah satu media refleksi populer yang digunakan untuk mengatasi masalah psikologis tersebut. Namun efektivitas media ini tidak hanya bergantung pada isi pesan, melainkan bagaimana komponen visual diolah untuk mampu menciptakan keterlibatan emosional, pemahaman dan kepercayaan pembaca terhadap buku. Penelitian ini bertujuan menganalisis preferensi generasi Z terhadap komponen desain buku self-help, serta memahami pola pengaruh elemen visual yang meningkatkan motivasi pembaca untuk terlibat secara emosional dengan buku. Melalui pendekatan mixed methode yaitu kualitatif deskriptif dan kuantitatif, data diperoleh melalui kuisioner yang menilai persepsi berdasarkan aspek desain cover, ilustrasi, warna, tipografi, dan layout. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 59.6% responden lebih menyukai desain yang kontekstual dan seimbang antara text serta ilustrasi karena dianggap relevan dan mudah diinterpretasikan oleh pembaca. Kombinasi visual yang dirancang dengan baik, akan menciptakan aesthetic trust dan perceived credibility pembaca terhadap pemahaman isi dalam buku.
Copyrights © 2026