Hipertensi adalah penyakit degeneratif tanpa tanda gejala yang menjadi masalah kesehatan global karena berisiko menimbulkan komplikasi serius hingga kematian. Berdasarkan Riskesdas (2023), angka kejadian hipertensi di Indonesia tercatat sebesar 30,8%. Terapi tunggal dinilai kurang efektif bagi sebagian besar pasien, sehingga kombinasi antihipertensi lebih sering diperlukan untuk mencapai target tekanan darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penggunaan kombinasi obat antihipertensi pada pasien rawat jalan di Puskesmas Pracimantoro, Wonogiri. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif analitik observasional dengan desain retrospektif dengan teknik purposive sampling. Jumlah sampel sebanyak 195 dari total populasi 440 pasien ditentukan menggunakan rumus Isaac dan Michael. Kriteria inklusi meliputi pasien hipertensi stage 2, usia ≥ 30 tahun, tanpa komorbid, dan menggunakan kombinasi dua obat antihipertensi serta kriteria eksklusi yang meliputi catatan rekam medis yang tidak lengkap. Data dianalisis dengan uji Chi Square. Hasil menunjukkan kombinasi amlodipin-hidroklorotiazid paling sering digunakan (50%), diikuti amlodipin-kaptopril (35%), amlodipin-furosemid (10%), dan kaptopril-hidroklorotiazid (5%). Regimen kombinasi amlodipin-kaptopril menunjukkan proporsi keberhasilan pencapaian target tekanan darah tertinggi dibandingkan regimen lainnya. Hasil uji uji Chi Square menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dari regimen obat kombinasi antihipertensi (X2 hitung = 21,99 > χ² tabel (α = 0,05) ≈ 7,815). Berdasarkan hasil uji Fisher’s Exact diperoleh nilai p = 0,0001 (p < 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kombinasi obat antihipertensi dengan pencapaian target tekanan darah.
Copyrights © 2026