Pengelolaan anggaran daerah memerlukan sistem pengendalian internal yang efektif serta penerapan manajemen risiko yang terintegrasi untuk mendukung tercapainya tujuan pembangunan secara optimal. Namun, pada praktiknya masih banyak pemerintah daerah menghadapi persoalan berupa rendahnya kualitas perencanaan, lemahnya pengawasan, ketidaktepatan prioritas belanja, serta belum optimalnya pemanfaatan sumber daya fiskal. Penelitian terdahulu umumnya membahas pengendalian internal dan manajemen risiko secara terpisah, sedangkan kajian mengenai sinergi keduanya dalam pengelolaan anggaran daerah, khususnya pada daerah dengan kapasitas fiskal terbatas, masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sinergi antara internal control dan manajemen risiko dalam pengelolaan anggaran pada Pemerintah Kabupaten Bengkulu Tengah. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa internal control telah berjalan secara normatif melalui fungsi pengawasan APIP. Namun, penerapan manajemen risiko masih bersifat administratif dan belum menjadi dasar utama dalam pengambilan keputusan anggaran. Temuan ini menunjukkan kebaruan bahwa integrasi pengawasan internal berbasis risiko menjadi model penting dalam meningkatkan efektivitas, efisiensi, akuntabilitas, dan kualitas tata kelola keuangan daerah.
Copyrights © 2026