Bukti tentang pengaruh variabilitas iklim terhadap kejadian tuberkulosis paru (TB) bersifat heterogen dan sering dimodifikasi oleh determinan layanan kesehatan. Studi ini mengevaluasi hubungan spasial-temporal antara variabel meteorologi dan kejadian TB paru dewasa serta peran ketersediaan tenaga kesehatan di Kota Palembang selama Januari 2020–Oktober 2025. Desain ekologi menggunakan data kejadian TB bulanan yang diagregasi per kecamatan dipadukan dengan data iklim (suhu, kelembapan, curah hujan, lama penyinaran matahari, dan kecepatan angin) dan indikator ketersediaan tenaga kesehatan. Analisis meliputi deret waktu untuk mengevaluasi asosiasi temporal dan analisis spasial untuk mengidentifikasi heterogenitas kejadian antar-kecamatan serta hubungan dengan distribusi dokter. Secara temporal tidak ditemukan asosiasi linier dan konsisten antara variabilitas iklim bulanan dan fluktuasi kejadian TB paru pada periode studi. Analisis spasial mengungkap heterogenitas kejadian antar-kecamatan yang berkaitan dengan ketersediaan dokter: kecamatan dengan ketersediaan tenaga medis lebih tinggi menunjukkan kejadian TB paru lebih banyak, mengindikasikan potensi detection bias, sedangkan kecamatan dengan tenaga kesehatan rendah berisiko under-reporting dan keterlambatan diagnosis. Variabilitas iklim tidak menjelaskan secara konsisten fluktuasi bulanan TB paru pada tingkat agregat; sebaliknya, kapasitas deteksi yang dipengaruhi distribusi tenaga kesehatan tampak berperan penting pada pola spasial notifikasi. Rekomendasi programatik meliputi pemerataan layanan primer, penguatan pendekatan active case finding dan kemitraan public–private, serta integrasi indikator pelayanan dalam surveilans spasial. Penelitian lanjutan dengan desain multilevel dan data individu diperlukan untuk menguji hubungan kausal.
Copyrights © 2026