Penggunaan merkuri (Hg) dalam kegiatan penambangan emas skala kecil masih menjadi isu kesehatan lingkungan yang signifikan, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu menyusui. Paparan Hg kronik dapat memicu pembentukan reactive oxygen species secara berlebihan sehingga menyebabkan stres oksidatif dan kerusakan molekuler pada tahap awal, termasuk oksidasi DNA. Salah satu penanda paling sensitif untuk mendeteksi kerusakan DNA dini adalah 8-hydroxy-2-deoxyguanosine (8-OHdG), yang menggambarkan respons biologis awal akibat tekanan oksidatif. Penelitian deskriptif ini bertujuan untuk menggambarkan kadar Hg pada darah, rambut, dan ASI, serta kadar 8-OHdG dalam urin pada ibu menyusui yang tinggal di wilayah penambangan emas Kulon Progo. Sebanyak 16 responden dipilih secara purposif, dan analisis Hg dilakukan menggunakan mercury analyzer, sedangkan 8-OHdG diperiksa dengan metode ELISA. Hasil menunjukkan bahwa rerata kadar Hg melebihi batas aman WHO. Dimana kadar Hg darah ibu tahap, rambut, urin dan Asi ibu tahapan I masing sebesar 784,43µg/L, 10585,63 µg/Kg, 696,78 µg/L dan 37,22 µg/L serta pada tahap II masing-masing 30,05 µg/L, 186,02 µg/Kg, 21,35 µg/L dan 81,42 µg/L. Tingginya Kadr Hg, memicu terjadinya peningkatan kadar 8-OHdG urin ibu yang menandakan terjadinya kerusakan DNA oksidatif dini. Dimana rerata kadar 8-OHdG sebesar 56,09 ng/ml pada tahap I dan 71,91 ng/ml pada tahap II. Temuan ini mengindikasikan bahwa paparan Hg kronik berpotensi mengganggu integritas seluler ibu dan meningkatkan risiko biologis bagi bayi melalui transfer ASI. Diperlukan penguatan pemantauan biomarker, pengurangan paparan lingkungan, serta intervensi kesehatan masyarakat untuk melindungi kesehatan ibu dan bayi.
Copyrights © 2026