Dengan prevalensi 21,6% pada tahun 2022, stunting tetap menjadi tantangan gizi terbesar di Indonesia, jauh di bawah target nasional 14% pada tahun 2024, terutama di daerah pedesaan seperti Kabupaten Sumba Barat Daya, di mana akses informasi terbatas, tingkat pendidikan rendah (33,07% tanpa pendidikan formal), pengasuhan anak yang tidak memadai, ayah jarang terlibat, dan kondisi lingkungan yang buruk. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan edukasi gizi pada orang tua yang ada di desa Ramadana, mendukung tumbuh kembang optimal anak, terutama dalam mencegah stunting dan masalah kesehatan jangka panjang, dan dalam pembuatan jamu dengan memanfaatkan tanaman obat keluarga (TOGA) sebagai upaya mendukung penanganan maupun pencegahan stunting pada anak. Metode yang digunakan meliputi observasi, pemberian materi, pelatihan tentang edukasi gizi, serta pelatihan praktek langsung pembuatan jamu serta evaluasi hasil. Setelah kegiatan pelatihan, terjadi peningkatan signifikan dari beberapa aspek penilaian, diantaranya adalah pengetahuan tentang gizi bagi AUD untuk orang tua , pengetahuan tentang tumbuh kembang AUD, seluruh orang tua dapat mempraktekkan cara pembuatan jamu. Hasil ini menunjukkan bahwa kegiatan edukasi dapat meningkatkan pemahaman orang tua tentang pemanfaatan tanaman Toga sebagai jamu untuk mengatasi stunting pada anak usia dini.
Copyrights © 2026