Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran budaya dalam penyelesaian konflik di kawasan perbatasan Asia Tenggara, dengan fokus pada masyarakat perbatasan Indonesia–Malaysia. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus untuk memahami dinamika sosial, praktik budaya, serta konstruksi identitas masyarakat perbatasan. Data diperoleh melalui analisis dokumen, studi literatur, dan interpretasi terhadap temuan dalam naskah disertasi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya Melayu berfungsi sebagai ruang sosial lintas batas yang melampaui batas negara modern, serta menjadi fondasi bagi terbentuknya relasi sosial yang harmonis. Selain itu, identitas sosial masyarakat perbatasan bersifat dinamis dan fleksibel, sehingga memungkinkan terjadinya negosiasi identitas yang berkontribusi dalam meredam konflik. Praktik sosial sehari-hari yang berbasis pada nilai-nilai budaya, seperti solidaritas, musyawarah, dan keseimbangan, berperan sebagai mekanisme informal dalam menjaga stabilitas sosial. Temuan ini menegaskan bahwa budaya tidak hanya berfungsi sebagai identitas, tetapi juga sebagai mekanisme resolusi konflik yang efektif. Oleh karena itu, integrasi antara pendekatan keamanan negara dan pendekatan berbasis budaya menjadi penting dalam merumuskan strategi penyelesaian konflik yang lebih komprehensif dan berkelanjutan di kawasan perbatasan Asia Tenggara.
Copyrights © 2026