Kemampuan pemecahan masalah matematika merupakan kompetensi fundamental yang wajib dikuasai mahasiswa, namun realitanya masih banyak mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam menghadapi persoalan matematika kompleks. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak model pembelajaran realistik terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika mahasiswa serta menguji peran self-efficacy sebagai variabel intervening. Desain eksperimen semu (quasi experimental) diterapkan pada 100 mahasiswa yang mengambil mata kuliah Matematika yang dibagi menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen menerapkan model Pembelajaran Matematika Realistik Indonesia (PMRI), sementara kelompok kontrol menggunakan pembelajaran konvensional. Instrumen meliputi tes kemampuan pemecahan masalah berbasis indikator Polya dan kuesioner self-efficacy yang telah divalidasi. Data dianalisis menggunakan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan pendekatan Partial Least Squares (PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran realistik berpengaruh signifikan terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika mahasiswa (β = 0,52; p < 0,05). Selain itu, self-efficacy terbukti memediasi secara parsial hubungan antara model pembelajaran realistik dan kemampuan pemecahan masalah (β = 0,38; p < 0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa pembelajaran berbasis konteks nyata tidak hanya meningkatkan keterampilan kognitif, tetapi juga memperkuat keyakinan diri mahasiswa. Oleh karena itu, dosen didorong untuk Mengintegrasikan pendekatan realistik secara konsisten guna membangun self-efficacy dan kemampuan pemecahan masalah mahasiswa secara holistik.
Copyrights © 2026