Industri gula tebu merupakan salah satu sektor strategis dalam pembangunan agraria Indonesia karena secara langsung memengaruhi kesejahteraan petani dan dinamika sosial ekonomi perdesaan. Dalam dua dekade terakhir, berbagai studi menunjukkan bahwa keberlanjutan usaha gula tebu tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis budidaya, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh modal sosial, pola kewirausahaan, dan tingkat kemandirian petani. Artikel ini merupakan kajian literatur sistematis terhadap publikasi nasional dan internasional periode 2005–2025, bertujuan menganalisis hubungan antara dinamika sosial, modal sosial, dan kewirausahaan dalam mendorong kemandirian petani tebu. Kajian dilakukan melalui penyaringan 214 publikasi menjadi 73 artikel yang relevan menggunakan pendekatan PRISMA. Hasil kajian menunjukkan bahwa modal sosial bonding, bridging, dan linking berperan penting dalam memperkuat jaringan kerja sama, akses modal, transfer teknologi, serta perluasan pasar bagi petani. Sementara itu, kewirausahaan agrarian baik dalam bentuk diversifikasi produk tebu, inovasi pascapanen, hingga pengembangan usaha berbasis komunitas—terbukti meningkatkan pendapatan, mengurangi ketergantungan pada pabrik gula, dan memperkuat posisi tawar petani. Namun, berbagai hambatan struktural seperti ketergantungan harga pada industri gula, lemahnya kelembagaan petani, dan penguasaan pasar oleh aktor besar masih menjadi tantangan serius dalam pencapaian kemandirian yang berkelanjutan. Studi ini menegaskan perlunya penguatan kelembagaan lokal, revitalisasi koperasi modern, inovasi teknologi berbasis petani, serta kebijakan tata niaga yang lebih adil untuk mendukung transformasi sosial dan ekonomi komunitas petani tebu di Indonesia.
Copyrights © 2026