Pengelolaan sampah di Kota Semarang menghadapi tantangan serius akibat pertumbuhan penduduk dan rendahnya kesadaran memilah sampah. Kondisi ini mendorong implementasi Program Bank Sampah Resik Becik (BSRB) di Kelurahan Krobokan sebagai inovasi berbasis komunitas yang mengintegrasikan pemberdayaan masyarakat dengan pengelolaan lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis proses, dampak kemandirian (ekonomi, sosial, lingkungan), serta faktor pendukung dan penghambat program BSRB. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, mengumpulkan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan proses pemberdayaan BSRB mengikuti empat tahapan: penyadaran, penguatan kapasitas (capacity building), aksi kolektif, dan keberlanjutan. Program ini berhasil meningkatkan kompetensi teknis melalui pelatihan daur ulang dan membuka peluang ekonomi alternatif. Proses ini juga diperkuat oleh elemen teori ACTORS. Kesimpulannya, meskipun BSRB signifikan dalam membangun kesadaran dan kompetensi masyarakat, kemandirian penuh masih terbatas. Hambatan utama termasuk partisipasi warga yang selektif (terpusat pada kelompok inti), rendahnya disiplin memilah sampah secara merata, dan ketergantungan operasional pada ketua BSRB.
Copyrights © 2026