Film adalah salah satu bentuk budaya populer yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana untuk memproduksi dan mereproduksi berbagai konstruksi sosial. Dalam kerangka tersebut, film memiliki peran penting dalam menyebarkan maupun menantang konstruksi makna sosial, termasuk makna tentang stereotip gender. Film “Bila Esok Ibu Tiada” mengadaptasi novel berjudul sama, karya Nagiga Nur Ayati, mempresentasikan bagaimana perempuan justru menjadi tokoh utama dalam film dengan peran sukses di tengah tekanan nilai nilai patriarkal. Hal ini menjadi dekonstruksi dari stereotip gender yang memposisikan perempuan hanya menjadi objek pandangan dan pelengkap. Penelitian ini menggunakan pendekatan dekonstruksi Jacques Derrida dan diperkuat dengan kerangka analisis wacana kritis. Berdasarkan hasil analisis, film Bila Esok Ibu Tiada menunjukkan dekonstruksi terhadap representasi perempuan yang dianggap lemah, distereotipkan harus berada di dapur, dan tidak memiliki karir cemerlang. Film ini juga melakukan kritik terhadap isu-isu yang dialami perempuan dengan cara unik sebagai upaya mereproduksi citra perempuan di masa kini. Sementara itu diperlukan penelitian lanjutan untuk membahas persepsi penonton terhadap dekonstruksi pesan dalam film terhadap citra perempuan saat ini.
Copyrights © 2026