Peningkatan jumlah kendaraan bermotor berbanding lurus dengan meningkatnya limbah oli bekas yang berpotensi mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan upaya pemanfaatan limbah oli bekas sebagai sumber energi alternatif yang bernilai guna, salah satunya sebagai bahan bakar kompor. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik kimia oli bekas serta menentukan rasio udara-bahan bakar (air–fuel ratio) yang optimal guna menghasilkan proses pembakaran yang efisien. Metode yang digunakan meliputi analisis komposisi kimia menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) untuk menentukan senyawa dominan dalam oli bekas, serta perhitungan stoikiometri untuk memperoleh rasio udara dan bahan bakar ideal. Selanjutnya dilakukan pengujian eksperimental dengan variasi kecepatan aliran udara masuk sebesar 1,16; 1,66; 2,16; 2,66; dan 3,16 m/s. Hasil analisis GC-MS menunjukkan bahwa senyawa dominan dalam oli bekas adalah dekosana (C₂₀H₄₂), sehingga diperoleh rasio stoikiometri udara-bahan bakar sebesar 14,8:1. Pengujian pembakaran menunjukkan bahwa kondisi optimal terjadi pada kecepatan udara masuk 2,16 m/s, dengan suhu nyala api mencapai 876,8°C dan suhu tungku 535,2°C, serta waktu pembakaran 1627 detik. Suhu tertinggi diperoleh pada kecepatan udara 3,16 m/s dengan suhu api 1103,3°C dan suhu tungku 688,5°C, namun dengan waktu pembakaran lebih singkat yaitu 1229 detik. Sebaliknya, suhu terendah terjadi pada kecepatan udara 1,16 m/s dengan suhu api 755,7°C dan suhu tungku 290,4°C, serta waktu pembakaran terlama yaitu 2224 detik. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa peningkatan kecepatan aliran udara berpengaruh signifikan terhadap kenaikan suhu pembakaran dan percepatan proses pembakaran, meskipun kondisi optimal dicapai pada kombinasi tertentu yang menghasilkan efisiensi termal terbaik.
Copyrights © 2026