Penelitian ini diarahkan untuk mengkaji sejauh mana kebijakan suku bunga acuan memengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan memanfaatkan kerangka analisis IS-LM (Investment–Saving dan Liquidity–Money). Pendekatan yang digunakan adalah metode kuantitatif deskriptif dengan mengandalkan data sekunder yang bersumber dari Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS), serta Bank Dunia selama periode 2024–2026. Hasil analisis menunjukkan bahwa kebijakan penurunan BI Rate sejak September 2024 hingga 2026 sebesar 150 basis poin hingga mencapai 4,75% berkontribusi terhadap peningkatan pertumbuhan kredit yang tercatat sebesar 9,96% secara tahunan hingga Januari 2026. Dalam perspektif IS-LM, penurunan suku bunga tersebut mendorong kenaikan investasi yang tercermin dari pergeseran kurva IS ke arah kanan, sekaligus meningkatkan likuiditas perbankan yang ditunjukkan oleh pergeseran kurva LM, sehingga menghasilkan keseimbangan baru pada tingkat output yang lebih tinggi. Di sisi lain, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5% pada periode 2025–2026, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 4,7%. Temuan ini mengindikasikan bahwa kebijakan suku bunga yang bersifat ekspansif cukup efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi melalui mekanisme pembiayaan dan penyaluran kredit. Meskipun demikian, proses transmisi kebijakan moneter masih menghadapi berbagai kendala struktural, seperti tingginya porsi kredit tertentu dan belum optimalnya realisasi penyaluran kredit. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kebijakan makroprudensial agar transmisi kebijakan moneter ke sektor riil dapat berlangsung lebih efektif.
Copyrights © 2026