Peningkatan penularan malaria di daerah endemis sangat terkait dengan kondisi iklim, ketinggian tempat, peggunaan lahan, penutupan lahan, dan lingkungan akuatik sebagai habitat perkembangbiakan vektor malaria. Iklim dapat mengurangi maupun meningkatkan kepadatan populasi nyamuk Anopheles sp. Sementara itu faktor topografi, penutupan lahan dan penggunaan lahan mempengaruhi distribusi tempat perindukan nyamuk, kepadatan larva dan vektor. Setiap jenis nyamuk Anopheles sp. memiliki karakteristik habitat perkembangbiakan yang berbeda-beda dan spesifik pada setiap wilayah geografis. Penelitaian ini bertujuan untuk menentukan distribusi spasial habitat akuatik nyamuk Anopheles sp. berdasarkan kerapatan indeks vegetasi NDVI dan curah hujan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskripstif yang dinalisis secara kuantitatif menggunakan data sekunder citra satelit lansat 8 tahun 2023 dan data primer curah hujan serta titik koordinat habitat akuatik yang ditampilkan dalam tabel, grafik dan peta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran habiat akuatik nyamuk Anopheles sp. di Distrik Muara Tami memilki hubungan linear posistif dengan indeks vegetasi NDVI dengan koefisien korelasi sebesar r=0,34. Sebaran habitat akuatik nyamuk Anopehes sp. dominan ditemukan pada daerah yang memiliki tutupan vegetasi jarang hingga sedang. Sementara itu, pada daerah yang tidak bervegatasi maupun daerah yang bervegetasi rapat sangat jarang terdapat habitat akuatik nyamuk Anopheles sp. Selain indeks vegetasi NDVI, curah hujan juga berhubungan linear dengan jumlah habitat akuatik nyamuk Anopheles sp. Koefisien korelasi antara jumlah curah hujan dasarian dengan habitat akuatik permanen sebesar r=-0,76 sedangkan pada habitat temporer sebesar r=-0,83. Adapun jumlah habitat akuatik permanen dipengaruhi oleh curah hujan sebesar 58% (R2=0,58) sedangkan jumlah habitat akuatik temporer dipengaruhi curah hujan dasarian sebesar 70% (R2=0,70).
Copyrights © 2025