Mimikri bukan sekadar peniruan terjajah terhadap penjajah, baik dilakukan secara disengaja maupun tidak sengaja, melainkan juga sebagai bentuk resistansi atas kekuasaan kolonial. Cerpen “Tambo Raden Sukmakarto”, ditulis oleh Dwi Cipta, menampilkan sebuah ironi wajah ganda kolonialisme dan bentuk resistansi terjajah berupa mimikri. Raden Sukmakarto, tokoh sentral dalam cerpen, merupakan seorang keturunan bangsawan Jawa berpendidikan ala Belanda; ia sebagai subjek terjajah, dibentuk dan direproduksi, dalam lingkungan kolonial Belanda pada Hindia Belanda atau Indonesia sebelum merdeka. Bukan sekadar telah memiliki atribut-atribut kolonial, berupa pendidikan ala Belanda, Raden Sukmakarto juga bahkan meminjam dan meniru atribut-atribut tersebut dengan mengalihbahasakan lagu kebangsaan Belanda, “Wilhelmus van Nassau”, ke dalam bahasa Jawa. Penelitian sastra ini termasuk dalam jenis penelitian studi pustaka, dengan memanfaatkan metode kualitatif dan penyajian data secara deskriptif. Untuk menganalisis cerpen tersebut, penelitian ini berpijak pada teori pascakolonial perspektif Homi K. Bhabha, terutama mengenai resistansi terjajah berupa mimikri dalam keretakan kekuasaan kolonial. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dominasi kolonial Belanda atas terjajah, dalam dualitas wajah kekuasaan berupa penindasan dan pemberadaban, akan selalu berakhir ironis dan membuka keretakan tersendiri akibat efek-efek ambivalensi. Mimikri pada Raden Sukmakarto terlihat sebagai strategi ganda secara bersamaan, mengguncang sekaligus resistan dari otoritas kolonial, dan hasil tiruan tersebut penuh dengan “keberlainan” dalam bentuk bukan sebagai Belanda atau Jawa secara utuh.
Copyrights © 2025