Penelitian ini menganalisis representasi trauma perempuan antargenerasi dalam film “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah” menggunakan pendekatan feminisme sinematik dan teori trauma. Film ini menyoroti pengalaman Wulan yang hidup dalam tekanan ekonomi dan emosional suaminya, serta bagaimana luka tersebut diwariskan kepada ketiga anak perempuannya: Anis, Alin, dan Aca. Melalui metode kualitatif deskriptif, penelitian menelaah aspek naratif dan visual untuk mengungkap simbol diam, kekerasan simbolik, dan solidaritas perempuan sebagai mekanisme penyembuhan. Hasil kajian menunjukkan bahwa trauma perempuan tidak berdiri sendiri, tetapi berakar pada struktur patriarki yang menormalisasi penderitaan domestik. Diam Wulan menjadi bentuk pembungkaman trauma, sedangkan respons emosional anak-anaknya merepresentasikan resistensi generasi baru terhadap ketidakadilan gender. Studi ini menegaskan bahwa sinema Indonesia berfungsi sebagai ruang refleksi yang mengungkap luka kolektif sekaligus memperlihatkan potensi solidaritas perempuan dalam memutus siklus trauma antargenerasi.
Copyrights © 2026