Tradisi Buka Luwur Punden Mangkubumi Joyo Kusumo dalam perspektif Pendidikan Agama Islam (PAI) di Desa Menawan, Kudus. Tradisi ini merupakan warisan budaya lokal yang dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh leluhur sekaligus pelestarian situs bersejarah yang di dalamnya terdapat Candi Lingga dan Yoni. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pendekatan etnografi realis. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap tokoh agama, tokoh adat, perangkat desa, dan masyarakat setempat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Buka Luwur memiliki makna sosial, budaya, dan religius. Tradisi ini menjadi bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus media mempererat solidaritas masyarakat melalui kegiatan doa bersama, tahlil, pengajian, dan gotong royong. Keberadaan Lingga dan Yoni dipahami masyarakat sebagai simbol sejarah dan budaya, bukan sebagai objek pemujaan. Dalam perspektif Pendidikan Agama Islam, tradisi ini mengandung nilai aqidah, ibadah, akhlak, ukhuwah Islamiyah, dan moderasi beragama. Tradisi Buka Luwur juga berperan sebagai media internalisasi nilai-nilai Islam kepada generasi muda melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan sosial dan keagamaan masyarakat. Kata Kunci: Tradisi Buka Luwur; Lingga Yoni; Pendidikan Agama Islam; Kearifan Lokal
Copyrights © 2026