Sunday School education in Indonesia remains dominated by a cognitivist-transmissive approach that treats Bible verse memorization as the primary indicator of children's faith formation. This article employs library research with a conceptual analysis approach to critique that model, arguing that genuine faith formation is not primarily determined by what children know but by the habitus gradually shaped through repeated communal participation. Drawing on Pierre Bourdieu's concept of habitus as a system of durable dispositions formed through repeated social practice and James K. A. Smith's cultural liturgies, the article argues that children are formed not chiefly through verbal instruction but through what they repeatedly do and inhabit within the faith community. This integration yields a practice-centered formation model characterized by four qualities: participatory, repetitive and consistent, contextual, and incarnational-relational. The article addresses three implementation challenges: cognitive-cultural resistance within church communities, the limited pedagogical capacity of Sunday School teachers, and the diversity of denominational contexts across Indonesia. The evaluative question posed is: "What habitus is actually being formed through our Sunday School practices?" Abstrak Pendidikan Sekolah Minggu di Indonesia masih didominasi oleh pendekatan kognitif-transmisif yang menjadikan hafalan ayat Alkitab sebagai indikator utama keberhasilan formasi iman anak. Artikel ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan pendekatan analisis konseptual untuk mengkritisi model tersebut dan berargumen bahwa formasi iman yang sejati bukan terutama ditentukan oleh pengetahuan yang dimiliki anak, melainkan oleh habitus yang terbentuk melalui keterlibatan berulang dalam praktik-praktik komunal gereja. Bertolak dari konsep habitus Pierre Bourdieu sebagai sistem disposisi yang terbentuk melalui praktik sosial berulang serta gagasan cultural liturgies James K. A. Smith, artikel ini berargumen bahwa anak-anak tidak terbentuk terutama melalui instruksi verbal, melainkan melalui apa yang mereka lakukan dan hidupi secara berulang dalam komunitas iman. Integrasi kedua kerangka ini menghasilkan model practice-centered formation yang bercirikan partisipatif, berulang dan konsisten, kontekstual, serta inkarnasional-relasional. Artikel ini juga mendiskusikan tiga tantangan implementasi: resistensi budaya kognitif, keterbatasan kapasitas pedagogis guru Sekolah Minggu, dan keragaman konteks denominasional di Indonesia. Pertanyaan evaluatif yang ditawarkan adalah: habitus seperti apakah yang sesungguhnya sedang dibentuk melalui praktik Sekolah Minggu kita?
Copyrights © 2023