Peredaran sediaan farmasi di Indonesia diatur secara ketat oleh BPOM untuk menjamin mutu, keamanan, dan ketersediaan obat. Pedagang Besar Farmasi (PBF) berperan penting dalam distribusi, sehingga penerapan Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) wajib dilakukan, termasuk pengelolaan obat berisiko tinggi seperti Look-Alike Sound-Alike (LASA). Obat LASA memerlukan sistem penyimpanan khusus untuk mencegah kesalahan pengambilan, pencampuran, dan distribusi yang dapat berdampak pada keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan praktik penyimpanan obat LASA di PBF “X” Bandung dan menilai kesesuaiannya dengan standar CDOB. Metode observasi langsung dilakukan untuk menilai penataan obat, pemisahan, pelabelan, dan pengelolaan stok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PBF “X” telah menerapkan sistem FIFO dan FEFO dengan cukup baik, serta menggunakan kartu stok elektronik untuk memonitor pergerakan barang. Ruang penyimpanan obat telah dipisahkan sesuai kebutuhan, termasuk area ambient, cool room,cold room, dan karantina. Namun, penerapan standar khusus LASA masih belum optimal. Temuan utama meliputi belum adanya pemisahan fisik khusus untuk obat LASA, tidak tersedianya label atau stiker LASA, serta belum diterapkannya Tallman Lettering. Hal ini meningkatkan potensi medication error terutama pada obat dengan nama dan kemasan yang mirip. Secara keseluruhan, PBF “X” telah memenuhi sebagian prinsip CDOB, terutama dalam penataan stok dan kondisi penyimpanan, tetapi masih perlu peningkatan pada sistem identifikasi, pemisahan, dan pelabelan khusus obat LASA untuk memperkuat keselamatan dan efisiensi distribusi.
Copyrights © 2026