Smart contract pada platform Ethereum mengelola aset finansial bernilai besar, namun sifat immutable membuat kerentanan kode berdampak permanen sebagaimana ditunjukkan kasus The DAO, Parity Wallet, dan Ronin Bridge. Dua pendekatan pendeteksian kerentanan telah berkembang luas: static analysis yang memeriksa kode sumber atau bytecode tanpa eksekusi, dan dynamic analysis yang menjalankan kontrak pada lingkungan simulasi dengan masukan terstruktur. Keduanya memiliki trade-off kecepatan, cakupan, dan tingkat false positive yang berbeda, namun perbandingan sistematis pada lingkungan pengembangan lokal Indonesia menggunakan alat versi terbaru masih jarang dilakukan. Artikel ini memaparkan rancangan penelitian eksperimental kuantitatif yang akan membandingkan Slither (static) dengan Foundry dan Echidna (dynamic) pada dataset 25 smart contract Solidity yang mencakup lima kategori kerentanan utama: reentrancy, integer overflow, access control, unchecked return values, dan unbounded loop. Metrik perbandingan meliputi precision, recall, F1-score, dan waktu komputasi. Kontribusi yang diharapkan adalah kerangka komparatif yang dapat menjadi rujukan praktis bagi pengembang Web3 Indonesia dalam memilih alat keamanan dan strategi pengujian hibrid yang sesuai dengan tingkat risiko proyek serta sumber daya tim.
Copyrights © 2025