Penelitian ini bertujuan menganalisis resepsi penonton terhadap film Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023) karya Yandy Laurens menggunakan teori encoding/decoding Stuart Hall. Film ini mengusung struktur naratif berlapis melalui teknik film-di-dalam-film serta penggunaan visual hitam-putih dan warna sebagai penanda antara realitas dan fiksi. Meskipun memperoleh apresiasi kritikus, capaian jumlah penonton bioskop film ini relatif terbatas. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis resepsi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap sembilan informan yang dipilih secara purposive, terdiri atas mahasiswa, audiens umum perkotaan, dan anggota komunitas film. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi makna dominan film, kemudian memetakan posisi decoding audiens ke dalam kategori dominant-hegemonic, negotiated, dan oppositional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas informan berada pada posisi dominant-hegemonic dan negotiated. Enam dari sembilan informan menempati posisi dominan-hegemonik, sementara tiga lainnya menunjukkan pembacaan yang bersifat negosiasi. Informan dengan literasi sinema tinggi cenderung menerima pesan film secara utuh, sedangkan audiens non-film menerima pesan utama namun menegosiasikannya dengan pengalaman pribadi dan preferensi hiburan. Posisi oppositional ditemukan secara terbatas pada penonton yang mengharapkan narasi linear dan konvensional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kompleksitas naratif menjadi kekuatan artistik sekaligus batas penerimaan audiens dalam perfilman Indonesia kontemporer. Temuan ini memberikan wawasan praktis bagi pembuat film dan praktisi media dalam menyeimbangkan kompleksitas naratif artistik dengan keterjangkauan (kemudahan dipahami) oleh audiens.
Copyrights © 2026