Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur dan pola kepemilikan ternak di wilayah pedesaan Indonesia dalam konteks sosial ekonomi masyarakat agraris. Latar belakang penelitian ini berangkat dari kenyataan bahwa subsektor peternakan memiliki peran strategis dalam penyediaan pangan hewani, peningkatan pendapatan rumah tangga pedesaan, serta penguatan ketahanan pangan nasional. Namun demikian, distribusi kepemilikan ternak di tingkat rumah tangga masih menunjukkan ketimpangan yang cukup tinggi akibat perbedaan akses terhadap sumber daya produksi, modal, serta teknologi budidaya.Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran (mixed methods) dengan mengombinasikan analisis kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh melalui survei terhadap 250 rumah tangga peternak di lima provinsi representatif (Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, dan Kalimantan Selatan), sedangkan data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah dengan peternak dan penyuluh pertanian. Analisis data dilakukan menggunakan model Gini Coefficient untuk mengukur tingkat ketimpangan kepemilikan ternak, serta analisis tematik untuk memahami faktor sosial budaya yang memengaruhi pola kepemilikan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur kepemilikan ternak di pedesaan Indonesia didominasi oleh rumah tangga kecil dengan kepemilikan kurang dari lima ekor ternak. Tingkat ketimpangan kepemilikan ternak tercatat cukup tinggi dengan nilai Gini sebesar 0,47. Faktor yang paling berpengaruh terhadap variasi kepemilikan adalah akses modal, luas lahan, dan partisipasi dalam kelompok tani. Penelitian ini merekomendasikan penguatan kelembagaan ekonomi petani-peternak dan akses pembiayaan mikro untuk mendorong pemerataan aset produktif di pedesaan.
Copyrights © 2023