Stunting tetap menjadi masalah yang umum di kalangan anak-anak dengan gizi buruk kronis di Indonesia. Meskipun pemerintah telah menerapkan program tambahan makanan untuk anak di bawah dua tahun, hasilnya belum optimal, kemungkinan disebabkan oleh penyakit mendasar atau penyakit penyerta pada anak-anak yang mengalami stunting. Studi deskriptif potong lintang ini bertujuan untuk menggambarkan profil anemia dan penanda inflamasi pada anak-anak yang mengalami stunting di bawah dua tahun. Studi ini dilakukan pada Desember 2023 di Laboratorium Klinik Rumah Sakit Provinsi Nusa Tenggara Barat, menggunakan metode sampling kluster dan berurutan. Data dikumpulkan melalui wawancara, pengukuran antropometri, dan penilaian laboratorium menggunakan Mindray BC5380 untuk hematologi dan penanda inflamasi, Mindray BC-240 untuk kadar besi, dan Mindray 900 untuk kadar ferritin. Sampel diperoleh dari kegiatan layanan sosial di Desa Sukadana, Kabupaten Lombok Tengah. Di antara 49 anak stunting yang teridentifikasi, 87,8% diduga menderita proktokolitis alergi, 51,0% diduga menderita talasemia, 20,4% diduga menderita anemia defisiensi besi, 12,2% diduga menderita anemia penyakit kronis, 10,2% diduga menderita penyakit radang usus, 4,1% diduga menderita infeksi bakteri, dan masing-masing 2,0% diduga menderita tuberkulosis dan helminthiasis. Temuan ini menyarankan agar profil anemia dan penanda peradangan dilakukan secara rutin di fasilitas kesehatan primer untuk mengidentifikasi penyebab mendasar stunting dan meningkatkan hasil intervensi.
Copyrights © 2026