Merapi Valley di Wilayah Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta ditandai oleh mosaik habitat yang kompleks, yang terbentuk akibat peningkatan intensitas pemanfaatan lahan. Kondisi ini berpotensi memengaruhi komposisi dan struktur komunitas burung di kawasan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman jenis, struktur komunitas, guild pakan, dan status konservasi burung di kawasan Merapi Valley sebagai dasar ilmiah pengelolaan dan konservasi. Pengambilan data dilakukan pada Oktober–Desember 2025 menggunakan kombinasi metode pengamatan visual, point count, jelajah, dan pendekatan bioakustik. Identifikasi spesies dilakukan berdasarkan ciri morfologi dan analisis vokalisasi, sedangkan analisis komunitas menggunakan Indeks Shannon–Wiener (H’), Indeks Kemerataan (E), Indeks Dominasi (ID), dan Kekayaan Jenis Margalef (R). Hasil penelitian mencatat 36 spesies burung dari berbagai famili dengan nilai keanekaragaman sedang (H’ = 2,05), kemerataan sedang (E = 0,63), dominasi rendah (ID = 0,230), dan kekayaan jenis relatif tinggi (R = 3,88). Komunitas burung didominasi oleh guild insektivora, yang mencerminkan ketersediaan sumber pakan dan heterogenitas vegetasi. Pendekatan bioakustik terbukti meningkatkan efektivitas deteksi spesies, khususnya burung berukuran kecil dan bersifat kriptik. Selain itu, ditemukan beberapa spesies dengan status konservasi terancam, seperti Nisaetus bartelsi (Endangered), Cochoa azurea (Vulnerable), dan Prinia familaris (Near Threatened). Penelitian ini menegaskan bahwa Merapi Valley memiliki peran penting sebagai habitat penyangga burung serta integrasi metode visual dan bioakustik efektif digunakan sebagai inventarisasi awal berbasis konservasi.
Copyrights © 2026