Artikel ini membahas epistemologi tafsir kontemporer melalui kajian terhadap pendekatan Ma‘na Cum Maghza yang dikembangkan oleh Sahiron Syamsuddin. Pendekatan ini merupakan bentuk integrasi antara tradisi Ulumul Qur’an klasik dengan hermeneutika modern untuk menghasilkan penafsiran Al-Qur’an yang kontekstual, progresif, dan tetap berlandaskan pada makna historis teks. Penelitian ini bertujuan menjelaskan paradigma, prinsip, serta langkah metodologis pendekatan Ma‘na Cum Maghza, sekaligus menganalisis posisi dan dinamika perkembangannya dalam diskursus tafsir kontemporer. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-analitis terhadap karya-karya Sahiron Syamsuddin dan literatur terkait hermeneutika Al-Qur’an. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan Ma‘na Cum Maghza menekankan dua tahap utama, yaitu pencarian makna asal historis (ma‘na) dan pengembangan signifikansi kontekstual (maghza). Pendekatan ini memadukan analisis linguistik, intratekstualitas, intertekstualitas, konteks sosial-historis, serta pengembangan maqashid ayat untuk menghasilkan penafsiran yang relevan dengan kebutuhan zaman. Selain itu, pendekatan ini hadir sebagai kritik terhadap kecenderungan tafsir tekstualis yang kurang memperhatikan konteks sosial dan historis ayat. Dengan demikian, Ma‘na Cum Maghza dapat dipahami sebagai salah satu model epistemologi tafsir kontemporer yang berupaya menjaga keseimbangan antara otoritas teks, konteks historis, dan realitas modern. Kata kunci: epistemologi tafsir, Ma‘na Cum Maghza, hermeneutika Al-Qur’an, Sahiron Syamsuddin, tafsir kontemporer. Abstract This article examines the epistemology of contemporary Qur’anic interpretation through the Ma‘na Cum Maghza approach developed by Sahiron Syamsuddin. This approach integrates the classical tradition of Ulumul Qur’an with modern hermeneutics in order to produce contextual, progressive, and historically grounded interpretations of the Qur’an. The study aims to explain the paradigm, principles, and methodological framework of the Ma‘na Cum Maghza approach, while also analyzing its position and development within contemporary Qur’anic exegesis discourse. This research employs a library research method using a descriptive-analytical approach toward the works of Sahiron Syamsuddin and related literature on Qur’anic hermeneutics. The findings reveal that the Ma‘na Cum Maghza approach emphasizes two main stages: discovering the original historical meaning (ma‘na) and developing its contextual significance (maghza). The approach combines linguistic analysis, intratextuality, intertextuality, socio-historical context, and maqashid-oriented interpretation to generate interpretations relevant to contemporary realities. Furthermore, this approach emerges as a critique of textualist interpretations that tend to neglect the social and historical dimensions of Qur’anic verses. Therefore, Ma‘na Cum Maghza can be understood as a contemporary epistemological model of Qur’anic interpretation that seeks to balance textual authority, historical context, and modern realities. Keywords: epistemology of tafsir, Ma‘na Cum Maghza, Qur’anic hermeneutics, Sahiron Syamsuddin, contemporary tafsir.
Copyrights © 2026