Permukiman sebagai ruang hidup manusia senantiasa mengalami penyesuaian terhadap keterbatasan fisik dan perubahan lingkungan. Kampung Pringgolayan Eks HP 10 (menggunakan bekas hak pakai nomor 10) yang semula merupakan kawasan kumuh telah ditata melalui program perbaikan infrastruktur, namun keterbatasan lahan hunian berukuran rata-rata 20 m² dengan dua lantai mendorong penghuni melakukan strategi adaptasi ruang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk strategi adaptasi yang diterapkan penghuni serta menganalisis implikasinya terhadap dinamika ruang hunian. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melalui observasi lapangan dan wawancara mendalam terhadap penghuni untuk menggali perubahan fisik bangunan, fungsi ruang, dan aktivitas sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi adaptasi dilakukan dalam bentuk adaptation by reaction berupa perubahan fisik bangunan dan penambahan elemen, adaptation by adjustment berupa penyesuaian fungsi ruang, serta adaptation by withdrawl berupa perpindahan ruang atau aktivitas ke tempat lain. Dari 12-unit rumah yang diamati, bentuk strategi adaptasi yang paling dominan pada hunian adalah by reaction + by adjustment, yang menunjukkan upaya aktif penghuni dalam menyesuaikan diri terhadap keterbatasan lahan melalui perubahan fisik dan penataan fungsi ruang. Pola ini mencerminkan fleksibilitas tinggi serta kreativitas penghuni dalam mengoptimalkan ruang, sekaligus menegaskan pentingnya pendekatan perencanaan perumahan yang mampu mengakomodasi dinamika kebutuhan dan perilaku adaptif masyarakat. Temuan ini menegaskan bahwa keterbatasan lahan mendorong penghuni untuk mengembangkan strategi adaptasi fleksibel dan multifungsi, yang tidak hanya memperlihatkan dinamika interaksi antara ruang dan aktivitas, tetapi juga memberikan implikasi praktis bagi perencanaan perumahan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan penghuni.
Copyrights © 2026