Latar Belakang: Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar keempat di dunia. Di Sulawesi Selatan, persentase kelahiran anak hidup juga meningkat dari tahun 2021 hingga 2023. Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) memiliki banyak keuntungan, namun wanita di Indonesia cenderung memilih metode kontrasepsi non-MKJP seperti suntik dan pil daripada MKJP. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengidentifikasi hubungan antara usia, dukungan suami, sosial ekonomi, pendidikan, pengetahuan serta paritas dengan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang pada akseptor KB di Rumah Sakit Khusus Daerah Ibu dan Anak (RSKDIA) Siti Fatimah.Metode: Desain penelitian ini cross sectional dengan pemilihan sampel purposive sampling. Kriteria inklusi adalah ibu yang terdaftar sebagai akseptor KB di RSKDIA Siti Fatimah pada tahun 2024. Jumlah sampel sebanyak 196 sampel. Analisis data yang digunakan menggunakan uji chi square. Hasil: Dari 196 akseptor KB di RSKDIA Siti Fatimah tahun 2024, mayoritas menggunakan MKJP (74,5%), berusia 20-35 tahun (69,9%), mendapat du-kungan suami (59,2%), bersosial ekonomi rendah (51,5%), berpengetahuan kurang (82,1%), berpendidikan tinggi (67,3%), dan multipara (68,4%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa hanya dukungan suami (p<0,001) dan paritas (p=0,029) yang memiliki hubungan signifikan dengan penggunaan MKJP.Kesimpulan: Tidak ada hubungan yang signifikan antara usia, sosial ekonomi, pengetahuan, pendidikan dan ada hubungan yang signifikan antara dukungan suami dan paritas dengan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang pada akseptor KB di RSKDIA Siti Fatimah. Faktor yang paling berpengaruh terhadap penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang yaitu dukungan suami.
Copyrights © 2026