Penelitian ini bertujuan menganalisis transformasi manajemen kinerja sektor publik di Indonesia melalui implementasi e-Kinerja dengan fokus pada dimensi keadilan organisasi dan efektivitas remunerasi. Masalah utama yang diidentifikasi adalah munculnya paradoks digitalisasi, ketika instrumen teknologi sering terjebak dalam formalitas administratif yang mengabaikan aspek keadilan kualitatif. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui studi pustaka integratif untuk mensintesis literatur primer dan dokumen kebijakan terkini. Analisis dilakukan menggunakan model interaktif guna mengeksplorasi keterkaitan antara keadilan organisasi, teori harapan, dan tata kelola remunerasi. Temuan penelitian menunjukkan digitalisasi belum sepenuhnya mampu memitigasi bias penilai dan beban kerja fluktuatif, berimplikasi pada penurunan keyakinan pegawai terhadap nilai imbalan. Hasil sintesis merumuskan urgensi reposisi peran pimpinan dari validator teknis menjadi pengelola makna. Kesimpulan penelitian menekankan keberhasilan manajemen kinerja tidak hanya bergantung pada keandalan infrastruktur teknologi informasi, tetapi pada penguatan keadilan interaksional melalui dialog kinerja manusiawi. Penelitian ini merekomendasikan penguatan penilaian 360 derajat dan integrasi e-Kinerja dengan sistem promosi serta ASN Corporate University untuk mencegah dehumanisasi penilaian. Ke depan, diperlukan eksplorasi model Agile Performance Management yang lebih adaptif dalam merespons dinamika beban kerja di sektor publik Indonesia.
Copyrights © 2026