Pengelolaan kearsipan yang efektif di perguruan tinggi menuntut kompetensi sumber daya manusia, kepatuhan regulatif, serta kesiapan infrastruktur agar proses penciptaan, penataan, penyimpanan, dan temu balik berjalan akuntabel. Penelitian ini menyoroti kondisi pada tingkat fakultas yang kerap luput dari kajian kelembagaan.Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus intrinsik di Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi Universitas Negeri Semarang. Data diperoleh melalui wawancara semi terstruktur terhadap tiga peran kunci pengelola arsip, dilengkapi telaah dokumen dan observasi terbatas. Analisis dilakukan secara tematik melalui pengodean terbuka, aksial, dan selektif dengan triangulasi sumber dan metode serta konfirmasi kepada informan. Kompetensi sumber daya manusia belum merata sehingga penerapan siklus arsip aktif, inaktif, dan statis belum konsisten. Digitalisasi melalui sistem internal telah membantu penciptaan dan temu balik arsip baru, namun pengelolaan fisik belum terpusat dan arsip lama sulit diakses. Kendala utama meliputi ketiadaan formasi arsiparis yang khusus, motivasi yang dipengaruhi latar pendidikan, serta keterbatasan sarana fisik seperti ruang simpan dan lemari berstandar. Kolaborasi antarsubunit mulai terbentuk dan praktik hibrida digital dan fisik berjalan, tetapi belum seragam.Temuan menegaskan hubungan erat antara kompetensi individu, kepatuhan terhadap standar, dan kesiapan infrastruktur. Rekomendasi meliputi rekrutmen arsiparis berlatar kearsipan, program pelatihan berjenjang dan terjadwal, standardisasi klasifikasi, penamaan berkas, retensi, serta konsolidasi ruang simpan terpusat yang terintegrasi dengan sistem digital agar efektivitas, efisiensi, dan akuntabilitas meningkat.
Copyrights © 2026